Dian Purnomo Berbagi Cerita di Perpustakaan Palnam 

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN Penulis ternama di Indonesia Dian Purnomo, akhirnya menginjakkan kaki pertama kalinya di Pulau Kalimantan, yang langsung menyambangi penggiat literasi di Provinsi Kalsel, untuk berbagi cerita perjalanannya menulis Novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam. 

Kegiatan yang diprakarsai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalimantan Selatan ini, dibungkus dalam gelar wicara secara daring dan luring, yang mengangkat tema “Memperjuangkan Keadilan Melalui Literasi”, di Aula Kantor Dispersip Kalsel, Jalan Jenderal Ahmad Yani Kilometer 06 Banjarmasin, Kamis (10/03/2022) siang. 

Dibuka Kepala Dispersip Kalsel Hj. Nurliani Dardie yang diwakili Sekretarisnya Muhammad Ramadhan menyampaikan, dihadirkannya narasumber terkenal ini merupakan salah satu upaya pihaknya, untuk mempertahankan pembangunan indeks literasi tertinggi yang diraih Kalimantan Selatan, guna menunjang kegemaran membaca masyarakat. 

“Ini juga bagian untuk mendukung Visi Gubernur kita Kalsel Maju. Harapannya, peserta dan masyarakat secara luas, dengan kehadiran penulis ternama seperti ini dapat menambah kesukaan dan kecintaan terhadap literasi, hingga dapat menambah pengetahuan dan menunjang kehidupan,” ungkapnya usai kegiatan.

Dipandu moderator Randu Alamsyah, Dian Purnomo menceritakan, ia dahulunya merupakan penulis novel cinta, namun akhirnya banting setir membuat novel begenre kekerasan yang diangkat dari kisah nyata. 

“Ada 8 novel yang saya buat tentang itu, namun gitu-gitu aja, tidak terkenal-terkenal amat, namun akhirnya ini (Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam) lumayan, dan saya baru bilang di sini, bahwa sudah ada menawarkan ingin dibuat film,” ucap Dian dalam paparannya.

Selain itu, ia juga berbagi pengalaman menulis novel tersebut yang diangkat dari kisah nyata, untuk menyuarakan keadilan melalui literasi. 

“Novel ini menceritakan tentang adat kawin tangkap di Sumba, Nusa Tenggara Timur, di mana 20 tahun terakhir laki-laki bisa main ambil perempuan manapun tanpa dimintai izin untuk dinikahi, dan didalamnya ada praktik kekerasan seksual,” tuturnya. 

Menurut pandangannya, kawin tangkap di zaman penyerataan gender seperti saat ini, merupakan sebuah praktik kekerasan terhadap perempuan, yang dibungkus dengan embel-embel budaya. 

Pada novel itu ia juga menceritakan, bahwa terdapat seorang tokoh yang melawan atas ketidakadilan tersebut, hingga berhasil membebaskan korban. 

“Dalam cerita saya, pelaku itu ditangkap. Saya ingin apa yang saya tuliskan itu menjadi nyata, dan Puji Tuhan tahun 2021 ini ada 2 orang pelakunya ditangkap dan masuk penjara. Waduh, jangan-jangan itu super power sayang gitu,” pungkasnya sambil tertawa.

Editor : Achmad MT