JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Pembukaan rute penerbangan internasional Banjarmasin (BDJ)–Kuala Lumpur (KUL) dinilai menjadi momentum penting untuk mempercepat pengembangan sektor pariwisata Kalimantan Selatan sekaligus memperluas akses wisatawan mancanegara ke Banua.
Pandangan tersebut disampaikan Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Firman Yusi, SP, melalui infografis yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Rabu (15/7/2026).
Firman menegaskan, penerbangan langsung menuju Kuala Lumpur bukan sekadar penambahan jalur transportasi, melainkan pintu masuk bagi Kalimantan Selatan untuk terhubung dengan pasar wisata internasional.
> “Pembukaan rute penerbangan internasional antara Kuala Lumpur dan Banjarmasin menandai momentum strategis yang berpotensi mentransformasi sektor pariwisata Kalimantan Selatan. Ini bukan sekadar penambahan rute transportasi, tetapi menjadi katalisator yang menghubungkan Kalimantan Selatan secara langsung dengan salah satu hub perjalanan terbesar di Asia Tenggara,” ujarnya.
Sekretaris Fraksi PKS DPRD Kalsel itu menjelaskan, Malaysia merupakan pasar potensial karena menjadi penyumbang wisatawan terbesar ke Indonesia. Berdasarkan data yang dipaparkan, wisatawan asal Malaysia menyumbang 16,28 persen dari total kunjungan wisatawan ke Indonesia pada 2023. Kunjungan tersebut juga meningkat 26,84 persen secara bulanan dan 4,68 persen secara tahunan pada Desember 2024.
Menurut Firman, karakter wisatawan dari Malaysia, Timur Tengah, hingga Eropa sejalan dengan potensi wisata Kalimantan Selatan yang didominasi wisata alam, religi, budaya, dan petualangan.
“Kalimantan Selatan memiliki kekayaan alam, budaya, dan spiritual yang autentik. Potensi ini menjadi modal utama untuk menarik wisatawan mancanegara yang mencari pengalaman berbeda,” katanya.
Ia menyebut sejumlah destinasi unggulan, seperti Pasar Terapung Lok Baintan, Rumah Adat Banjar, Makam Guru Sekumpul, Geopark Meratus, Tahura Sultan Adam, hingga kawasan wisata alam Loksado.
Namun, Firman mengingatkan masih ada sejumlah tantangan yang harus dibenahi, antara lain peningkatan infrastruktur dan akses menuju destinasi wisata, kualitas sumber daya manusia, pengelolaan destinasi yang lebih profesional, serta pelestarian lingkungan.
Untuk memaksimalkan peluang tersebut, ia mengusulkan lima langkah strategis, yakni peningkatan infrastruktur, pengembangan produk wisata berbasis data, penguatan kapasitas SDM, pemasaran digital, serta kolaborasi antara pemerintah, swasta, komunitas, dan investor.
“Setiap tantangan adalah peluang investasi dan kolaborasi untuk membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan dan berdaya saing. Tujuan akhirnya adalah menjadikan Kalimantan Selatan sebagai destinasi wisata unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pariwisata yang inklusif,” pungkasnya. (YUN)













