Kejutan Piala Dunia 2026: Saat Negara “Kecil” Akhirnya Pecah Telur

Pertandingan Irak melawan Selandia Baru di babak penyisihan 32 besar Piala Dunia 2026 (fifa.com)

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Piala Dunia 2026 bukan hanya panggung dominasi tim-tim besar. Turnamen edisi kali ini juga menghadirkan cerita segar dari negara-negara yang selama ini kerap dipandang sebelah mata.

Sejumlah tim berhasil “pecah telur” dengan meraih kemenangan perdana di fase grup. Bahkan, beberapa di antaranya mampu melangkah lebih jauh hingga babak gugur, yang sebelumnya nyaris mustahil.

Tanjung Verde menjadi salah satu kisah paling menarik. Meski berstatus debutan, mereka tampil tanpa beban dan mampu memberi perlawanan sengit. Raihan poin di fase grup sudah menjadi pencapaian bersejarah bagi negara kecil di Afrika tersebut.

Dari Asia, Uzbekistan menunjukkan perkembangan signifikan. Meski belum konsisten, mereka akhirnya mampu mencatat kemenangan di panggung Piala Dunia—sebuah tonggak penting bagi sepak bola nasional mereka.

Selandia Baru juga tak mau ketinggalan. Wakil Oseania ini kembali menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar pelengkap. Performa yang lebih kompetitif membuat mereka mampu meraih poin berharga di fase grup.

Sementara itu, Curaçao mencuri perhatian lewat permainan berani saat menghadapi tim-tim kuat. Meski tidak diunggulkan, mereka mampu mencetak gol dan meraih hasil positif yang menjadi sejarah baru bagi sepak bola Karibia.

Dari Timur Tengah, Yordania dan Irak memang belum melangkah jauh. Namun, pengalaman tampil di Piala Dunia 2026 menjadi modal penting untuk perkembangan generasi berikutnya.

Cerita paling mencolok datang dari Mesir. Tak hanya meraih kemenangan di fase grup, mereka juga melangkah lebih jauh dengan mencatat kemenangan bersejarah di fase gugur. Sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa tim non unggulan bisa berbicara banyak di level tertinggi.

Fenomena ini tak lepas dari format baru Piala Dunia dengan jumlah peserta yang lebih banyak. Kesempatan tersebut membuka ruang bagi negara-negara berkembang untuk tampil dan bersaing.

Di satu sisi, dominasi tim besar masih terasa. Namun di sisi lain, kehadiran tim-tim “kuda hitam” justru menjadi warna tersendiri. (Viz)