Pembangunan dan Kebahagiaan, Pengukuran Baru Tingkat Kesejahteraan

Ilustrasi Kebahagiaan
Ilustrasi | berkumpul bersama kawan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi sebagian orang

Penulis : Eddy Erwan Nopianoor (Statistisi Madya BPS Banjar)

Eddy

Apabila kita ditanya apakah sudah merasakan bahagia ? Kira-kira seperti apa jawaban kita ? Jika ukuran kebahagiaan adalah karena sudah bekerja mungkin seluruh orang yang bekerja akan menjawab bahagia. Atau jika ukuran bahagia adalah sudah mempunyai rumah, maka bisa ditebak mereka yang sudah memiliki rumah akan menjawab pula bahagia. Bagi mereka yang hobi gowes mungkin akan menjawab bahagia apabila telah selesai melakukan kegiatan bersepeda. Jawaban tentang kebahagiaan yang didapat akan berbeda pada setiap orang beserta alasan yang membuat bahagia. Namun sebenarnya apa arti kebahagiaan dan bagaimana cara mengukurnya ?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebahagiaan merupakan kesenangan dan ketentraman hidup lahir dan bathin. Diartikan juga sebagai konsep berupa hasil evaluasi kehidupan yang menggambarkan kondisi kehidupan yang baik (good life) dan kehidupan yang bermakna (meaningful life).

Kebahagiaan tidak berbeda dengan kepuasan hidup atau  life satisfaction, dimana kebahagiaan dapat didefinisikan sebagai “over all appreciation of one’s life as a whole” (Veenhoven, 1988).

Pemerintah telah mengukur keberhasilan pembangunan untuk mensejahterakan penduduk dalam upaya mencapai kebahagiaan melalui berbagai indikator makro. Tingkat Kemiskinan, Pembangunan Manusia, Tingkat Pengangguran, Pertumbuhan Ekonomi dan yang lainnya.

Namun keberadaan indikator makro tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah daerah dengan kemiskinan tinggi memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah ? Apakah daerah dengan IPM yang tinggi memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi ? Apakah daerah dengan tingkat pengangguran tinggi memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah ? Apakah daerah dengan pertumbuhan ekonomi rendah memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah ? Pertanyaan-pertanyaan di atas, pada dasarnya muncul karena kelemahan ukuran pembangunan secara makro.

Indikator makro masih terdapat setidaknya dua kelemahan mendasar yaitu; tidak mampu menggambarkan tingkat kemakmuran ataupun kesejahteraan secara nyata, serta tidak dapat merefleksikan pemerataan pendapatan bagi semua penduduk.

Selanjutnya, dilakukan penyusunan indikator kesejahteraan dilaksanakan untuk memenuhi 3 (tiga) tujuan yaitu: (1) menutupi kelemahan pada indikator ekonomi makro; (2) melengkapi penggunaan indikator kinerja ekonomi makro; dan (3) menjadikan indikator kesejahteraan sebagai indikator yang mengukur tingkat perkembangan dan keberhasilan pembangunan nasional.

Halaman Berikutnya
Indikator Kesejahteraan