JURNALKALIMANTAN.COM, BARITO KUALA – Sektor peternakan di Kabupaten Barito Kuala (Batola) terus menunjukkan perkembangan positif. Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) mencatat produksi ayam broiler mencapai sekitar 2 juta ekor per tahun, melalui kemitraan 34 peternak dengan PT Mitra Sinar Jaya dan PT Ciomas Adi Satwa BJM/BJB.
Kepala Dinas Lasiman melalui Kepala Bidang Peternakan Eko Hariyanto mengatakan, pola kemitraan inti-plasma mampu meningkatkan skala usaha sekaligus menjaga stabilitas produksi.
“Perusahaan menyediakan DOC (bibit, red), pakan, dan obat-obatan, sementara peternak fokus pada manajemen kandang. Kolaborasi ini membuat produksi lebih stabil,” ujarnya, belum lama tadi.
Dari enam kecamatan sentra peternakan ayam broiler, Wanaraya menjadi wilayah dengan jumlah peternak terbanyak, yakni 15. Secara keseluruhan, kapasitas produksi 34 peternak mitra mencapai 352.500 ekor per periode, dengan kebutuhan pakan sekitar 969,3 ton.
Disbunak juga mencatat kemajuan dalam penerapan teknologi peternakan. Sebanyak 20 dari 34 peternak telah menggunakan sistem kandang close house, yang dinilai lebih efisien dalam menjaga suhu kandang, menekan angka kematian ternak, serta mengurangi dampak bau terhadap lingkungan.
Salah satu peternak, Safrudin, menjadi contoh penerapan sistem tersebut dengan kapasitas kandang mencapai 42.000 ekor.
Dengan masa pemeliharaan sekitar 35 hari atau enam periode panen dalam setahun, serta memperhitungkan tingkat kematian sekitar 15 persen, produksi ayam yang siap dipasarkan diperkirakan mencapai sekitar 1,7 juta ekor setiap tahun.
Selain meningkatkan produksi, Disbunak juga memfokuskan perhatian pada penguatan tata niaga dan hilirisasi hasil peternakan, agar manfaat ekonominya semakin dirasakan masyarakat.
Eko mengatakan, pihaknya tengah mengkaji skema agar sebagian hasil panen dapat memenuhi kebutuhan pasar lokal Batola, terutama untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga saat menjelang Ramadan, Idulfitri, Natal, dan Tahun Baru.
Di sisi lain, aspek lingkungan juga menjadi perhatian. Mayoritas peternak telah menerapkan penggunaan blower dan penyemprotan EM4 secara rutin untuk mengurangi dampak pencemaran.
Perusahaan inti juga melakukan survei lokasi, guna memastikan jarak kandang dengan permukiman sebelum menjalin kemitraan baru.
Sektor peternakan ayam broiler turut memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah. Disbunak memastikan pendataan wajib pajak dari sektor peternakan terus dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Potensi hilirisasi masih sangat terbuka. Jika tata niaga diperkuat, peternak dapat naik kelas, tidak hanya sebagai plasma, tetapi juga memiliki akses pasar secara mandiri,” pungkas Eko.
(Alibana/Ahmad M)













