Kepedulian Pupuk Kaltim Lestarikan Anggrek Hitam

Anggrek Hitam

JURNALKALIMANTAN.COM, BONTANGCoelogyne pandurata L. (Anggrek Hitam) merupakan salah satu flora yang hanya tumbuh di daerah tertentu di Kalimantan, di antaranya Kalimantan Timur. Pada dasarnya, anggrek ini tidak sepenuhnya berwarna hitam, hanya bagian lidah bunga yang berwarna hitam, sedangkan kelopaknya berwarna hijau kekuningan. Dengan bunga berbentuk tangkai, anggrek ini memiliki pesonanya sendiri, terlebih dengan aromanya yang khas.

Tumbuhan ini hidup bergerombol membentuk rumpun yang di habitat yang relatif lembab dan rajin berbunga. Dengan keindahan dan keunikannya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menjadikannya sebagai maskot flora dan lebih dikenal sebagai Kersik Luai oleh masyarakat setempat. 

Sebagai perusahaan yang berkomitmen menjaga lingkungan dan ekosistem, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) ikut berkontribusi dalam upaya melestarikan tanaman langka tersebut.

Rahmad Pribadi, Direktur Utama PKT mengungkapkan, sebagai perusahaan dengan basis produksi di Kalimantan Timur, pihaknya turut bertanggung jawab untuk menjaga kekayaan keanekaragaman lingkungan sekitar perusahaan. 

Inisiatif penyelamatan anggrek hitam sudah dijalankan mulai 2011 yang diwujudkan lewat berbagai gerakan dan inovasi. Didukung teknologi dan tenaga riset terapan yang PKT miliki, serta berkolaborasi dengan balai konservasi, PKT berhasil mengembalikan 1.314 anggrek hitam ke habitat aslinya sejak 2018.

Anggrek Hitam

“Adapun upaya PKT dalam meningkatkan jumlah populasi anggrek hitam, di antaranya memperbanyak jumlah bibit anggrek hitam dan mengembalikan anggrek hitam ke habitat aslinya (reintroduksi) yang dilakukan di Sangkima dan kawasan Taman Nasional Kutai,” jelas Rahmad dalam siaran persnya, Ahad (14/03/2022).

Total ada 5.218 bibit anggrek hitam berhasil diproduksi PKT dari 2016 atau rata-rata mencapai 1.043 per tahun.

“Kami percaya, inisiatif-inisiatif yang kami lakukan dapat meningkatkan jumlah anggrek hitam di habitat aslinya, yakni hutan tropis Kalimantan,” tegas Rahmad.

Seperti diketahui, Indonesia terkenal dengan keanekaragaman hayatinya. Hal ini terbukti dengan ragam jenis flora dan fauna yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Memiliki luas hutan tropis hingga 143 juta hektare, negeri ini menjadi rumah bagi berbagai tanaman berkarakteristik unik dan hanya tumbuh di wilayah tertentu (endemik).

Sayangnya, populasinya makin berkurang diakibatkan bermacam faktor, di antaranya kebakaran hutan, pengambilan liar, alih fungsi lahan, pembalakan liar, dan sebagainya.

Tanaman-tanaman ini pun terancam punah sehingga menjadi prioritas pemerintah untuk melindungi, mengawasi, dan menjaga keberadaannya.

Selain anggrek hitam, berikut daftar 3 tanaman di Indonesia yang keberadaannya terancam punah dan perlu dilakukan upaya penyelamatan.

  1. Acung Jangkung

Amorphophallus decus-silvae Backer & Alderw atau lebih dikenal dengan acung jangkung, merupakan tanaman jenis bunga bangkai yang hanya dapat ditemukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian barat. Tingginya dapat mencapai 2—3,5 meter dengan warna tangkai daun ke abu-abuan dan totol acak berwarna coklat tua.

Sebagaimana bunga bangkai pada umumnya, pada waktu mekar, acung jangkung mengeluarkan bau bangkai yang menyengat. Akan tetapi, umbi dari tanaman ini ternyata berpotensi menjadi sumber karbohidrat. Meskipun demikian, populasinya kian menurun dan diperkirakan tinggal kurang dari 10.000 tanaman (berdasarkan catatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

2. Pohon Palahlar

Memiliki nama latin Dipterocarpus Littoralis Blume, pohon palahlar merupakan tanaman endemik dari Pulau Nusakambangan. Dengan tinggi mencapai 35 meter, pohon ini berpotensi menjadi penghasil kayu komersial berkualitas dan bernilai jual tinggi. Selain itu, juga bermanfaat sebagai tanaman obat, utamanya pada bagian kulit kayu dan daunnya yang berkhasiat sebagai antibakteri.

Guna melestarikannya, dapat melalui biji dan cabutan semai di alam.

3. Kantong Semar

Memiliki bentuk seperti kantong, tanaman bernama latin Nepenthaceae ini hanya ditemukan di Kalimantan Barat. Dengan bentuknya yang unik, kantong semar berpotensi sebagai tanaman hias yang cantik.

Di sisi lain, pertumbuhan tanaman kantong semar relatif lambat. Menurut LIPI, cara terbaik untuk menyelamatkannya adalah dengan konservasi eksitu atau dilakukan di luar habitat aslinya serta melakukan kultur jaringan.

(Saprian)