JURNALKALIMANTAN.COM, BANJAR – Anggota Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Gusti Abidinsyah, meninjau langsung kondisi infrastruktur rusak di Desa Aranio, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, menyusul putusnya dua jembatan penghubung antar-kampung akibat banjir dua pekan lalu.
Putusnya jembatan di RT 02 RW 01 tersebut memutus total akses warga, terutama para petani, pekebun, dan nelayan menuju lokasi usaha mereka. Derasnya arus sungai menghancurkan struktur jembatan yang selama ini menjadi jalur utama aktivitas masyarakat.
“Jembatan ini sangat vital. Saat ini transportasi warga terputus total, padahal mayoritas masyarakat menggantungkan hidup pada sektor perikanan, perkebunan, dan pertanian,” ujar Gusti Abidinsyah di lokasi.
Sebagai bentuk kepedulian awal, politisi Partai Demokrat Kalsel itu menyalurkan bantuan dana sebesar Rp10 juta untuk mendukung perbaikan darurat secara swadaya.
Namun ia menegaskan, solusi sementara tidak cukup dan pemerintah daerah perlu segera membangun jembatan permanen yang layak dilalui kendaraan roda empat.
“Jalur ini strategis karena menjadi akses penghubung ke jalan tol dan urat nadi bagi enam desa di wilayah seberang. Jembatan permanen sangat mendesak,” tegasnya.
Gusti Abidinsyah berkomitmen mengawal usulan pembangunan jembatan tersebut agar masuk dalam prioritas anggaran pemerintah daerah.
Camat Aranio menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan dan berharap aktivitas serta produktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal. Desa Aranio sendiri memiliki sekitar 12 ribu penduduk yang tersebar di 12 desa.
Sementara itu, Pembakal Aranio, Khairiyadi, mengapresiasi respons cepat legislator tersebut. Menurutnya, bantuan dana akan digunakan untuk perbaikan darurat guna menyambung kembali akses yang terputus.
“Bantuan ini menjadi motivasi bagi masyarakat untuk bangkit,” ujarnya.
Ia menjelaskan, jembatan tersebut dibangun pada 2006 dan sudah tiga kali mengalami kerusakan parah hingga putus. Selama ini, perbaikan hanya mengandalkan swadaya dan gotong royong warga.
Warga setempat, Supriyadi, mengatakan dampak putusnya jembatan sangat dirasakan, terutama lumpuhnya sektor perikanan, perkebunan, dan pertanian. Selain ekonomi, akses pendidikan anak-anak juga terganggu karena harus menyeberangi sungai.
“Kami sudah mengajukan proposal bantuan ke pemerintah daerah, tapi belum ada realisasi. Kami berharap jembatan permanen segera dibangun karena ini menyangkut ekonomi dan masa depan anak-anak,” pungkasnya. (YUN)














