JURNALKALIMANTAN.COM, BANJAR – Transformasi digital di dunia pendidikan vokasi terus berkembang. Menjawab tantangan tersebut, SMK Negeri 1 Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, mengambil langkah strategis dengan membangun ekosistem layanan sekolah berbasis aplikasi yang dikembangkan secara mandiri.
Digitalisasi ini mencakup berbagai aspek tata kelola pendidikan, mulai dari kehadiran siswa, aktivitas pembelajaran, pembinaan karakter, layanan perpustakaan, hingga pengelolaan berbagai program sekolah. Seluruhnya dirancang untuk menciptakan layanan pendidikan yang lebih efektif, transparan, terukur, dan terintegrasi.
Kepala SMK Negeri 1 Martapura, Rahmah, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi atau tren pendidikan, melainkan sebuah kebutuhan untuk meningkatkan kualitas tata kelola sekolah.
“Digitalisasi bukan hanya tentang memindahkan pekerjaan manual ke aplikasi. Lebih dari itu, bagaimana teknologi dapat mempermudah pekerjaan, meningkatkan efisiensi, serta menghadirkan tata kelola sekolah yang transparan dan akuntabel. Kami ingin seluruh layanan sekolah dapat berjalan lebih tertib, cepat, dan terukur,” ungkap Rahmah, Selasa (2/11/26).
Salah satu inovasi yang telah diterapkan adalah SiHADIR (Sistem Informasi Manajemen Kesiswaan), sistem informasi kehadiran siswa berbasis kartu barcode. Melalui sistem ini, siswa cukup memindai kartu saat memasuki lingkungan sekolah. Data kehadiran, waktu kedatangan, hingga keterlambatan secara otomatis tercatat dalam sistem.
Pengawas harian dapat memantau kehadiran serta aktivitas izin keluar-masuk siswa. Sementara itu, wali kelas, guru Bimbingan Konseling (BK), dan ketua jurusan dapat mengakses data siswa binaannya. Bahkan, orang tua atau wali siswa juga dapat memantau kehadiran anak secara real-time.
Pada bidang pembelajaran, sekolah mengembangkan SiGMA (Sistem Informasi Guru Mengajar). Aplikasi ini memfasilitasi guru dalam mengisi jurnal mengajar, mencatat kehadiran siswa, serta mengelola penilaian dalam satu platform. Data siswa pada SiGMA telah tersinkronisasi dengan SiHADIR sehingga menghindari penginputan data berulang dan mempercepat penyusunan laporan pembelajaran.
Transformasi digital juga menyentuh aspek pembinaan karakter melalui SIMONIS (Sistem Monitoring Ibadah Siswa). Aplikasi ini digunakan untuk memantau pelaksanaan ibadah siswa secara terstruktur sebagai bagian dari upaya membangun karakter dan memperkuat nilai-nilai religius di lingkungan sekolah.
Sementara itu, penguatan budaya literasi didukung melalui aplikasi e-Literasi yang digunakan untuk mengelola layanan perpustakaan sekaligus mendukung program membaca rutin siswa. Aktivitas literasi tersebut dapat dipantau oleh wali kelas sehingga pelaksanaannya lebih terarah dan terdokumentasi.
Tidak berhenti pada aplikasi yang telah berjalan, SMK Negeri 1 Martapura juga menyiapkan sejumlah inovasi digital lainnya. Aplikasi x-Skul dikembangkan untuk mengelola kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari pendaftaran peserta hingga penilaian aktivitas siswa.
Di bidang tata kelola keuangan, e-BOS dirancang untuk mendukung proses perencanaan dan penyusunan anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) agar lebih tertib, transparan, dan terdokumentasi, mulai dari pengusulan kebutuhan unit kerja hingga penetapan anggaran.
Untuk memperkuat hubungan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), sekolah juga mengembangkan e-Humas. Aplikasi ini diproyeksikan menjadi sarana pengelolaan kemitraan, Praktik Kerja Lapangan (PKL), serta penelusuran alumni atau tracer study.
Inovasi lainnya adalah e-Barasih, aplikasi bank sampah digital yang mencatat setiap setoran sampah siswa dan mengonversinya menjadi saldo. Program ini tidak hanya memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan lingkungan, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap kebersihan dan budaya hidup berkelanjutan.
Rahmah menegaskan bahwa seluruh inovasi tersebut dibangun dengan satu tujuan utama, yakni memberikan kemudahan bagi seluruh warga sekolah dalam menjalankan aktivitas dan tanggung jawab masing-masing.
“Kami ingin membangun sistem yang saling terhubung, bukan aplikasi yang berjalan sendiri-sendiri. Dengan integrasi data, pekerjaan guru menjadi lebih mudah, pelayanan kepada siswa semakin baik, dan orang tua juga mendapatkan akses informasi yang lebih terbuka. Teknologi harus menjadi solusi, bukan justru menambah beban pekerjaan,” tegasnya.
Ke depan, SMK Negeri 1 Martapura menargetkan seluruh aplikasi tersebut terintegrasi dalam satu ekosistem digital sekolah. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam menghadirkan tata kelola pendidikan vokasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan.
Melalui pengembangan berbagai inovasi tersebut, SMK Negeri 1 Martapura menunjukkan bahwa transformasi digital dapat dimulai dari lingkungan sekolah sendiri. Bukan sekadar menghadirkan aplikasi, tetapi membangun budaya kerja yang lebih efektif, kolaboratif, transparan, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.
(Ang)













