JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Selatan mencatat kinerja lembaga jasa keuangan di wilayahnya terpantau stabil dan berisiko terjaga, guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang semakin menguat.
Hal tersebut disampaikan secara langsung oleh Kepala OJK Provinsi Kalimantan Selatan Agus Maiyo, dalam acara Media Update bersama Forum Wartawan Ekonomi Kalimantan Selatan di Rumah Makan Sari Patin, Banjarmasin, Kamis (21/5/2026).
Pertumbuhan ekonomi Kalsel pada triwulan I tahun 2026, menunjukkan tren positif dengan tumbuh solid sebesar 5,67 persen dari tahun ke tahun (yoy). Capaian ini melampaui angka pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,61 persen (yoy), serta lebih tinggi dibandingkan triwulan IV tahun 2025 yang tumbuh sebesar 5,46 persen (yoy).
Agus Maiyo menjelaskan, bahwa capaian positif ini berhasil dipertahankan di tengah bayang-bayang ketidakpastian geopolitik global. Gangguan distribusi energi akibat blokade Selat Hormuz secara tidak langsung memengaruhi biaya logistik komoditas ekspor andalan Kalsel, seperti batu bara dan kelapa sawit, serta harga bahan baku akibat rantai pasok yang terganggu.
Sektor Perbankan dan Pasar Modal Melaju Positif
Kestabilan ekonomi tersebut tercermin kuat pada kinerja intermediasi perbankan yang terus menunjukkan pertumbuhan positif dengan likuiditas memadai. Berdasarkan data per Maret 2026, aset perbankan di Kalsel meningkat 3,91 persen (yoy) menjadi Rp108,96 triliun. Dana Pihak Ketiga juga naik sebesar 4,06 persen (yoy) menjadi Rp98,46 triliun.
“Pada Maret 2026, kredit tumbuh 5,89 persen yoy menjadi sebesar Rp83,14 triliun, dan kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross berada di angka 2,57 persen,” papar Agus.
Tren positif juga berlanjut di sektor pasar modal. Peningkatan jumlah investor di Kalsel terpantau sangat signifikan. Nilai transaksi saham tercatat mencapai Rp2,01 triliun, yang sejalan dengan peningkatan jumlah Single Investor Identification saham yang tumbuh konsisten hingga mencapai 126.451 investor, atau melesat 51,47 persen (yoy).
Pinjaman Daring Tumbuh Pesat, Pengaduan Didominasi Kasus Fintech
Di sisi Industri Keuangan Non-Bank, sektor pinjaman daring mencatatkan pertumbuhan pembiayaan yang masif. Outstanding pembiayaan pada sektor ini meningkat tajam sebesar 31,71 persen (yoy) menjadi Rp1,112 triliun, dengan tingkat risiko kredit (TWP90) yang berada di angka 2,08 persen.
Namun, seiring dengan tingginya penetrasi pembiayaan digital, aduan masyarakat terkait sektor ini juga menjadi yang tertinggi. OJK Kalsel melaporkan bahwa sejak 1 Januari hingga 18 Mei 2026, pihaknya telah menerima 2.492 pengaduan, pertanyaan, dan informasi melalui Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK).
Pengaduan paling banyak berasal dari keluhan terkait fintech peer-to-peer lending yang mendominasi hingga 47,73 persen. Keluhan ini diikuti oleh aduan terhadap Bank Umum sebesar 18,26 persen dan Perusahaan Pembiayaan sebesar 11,88 persen.
“Jenis permasalahan terbanyak yaitu mengenai SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) sebesar 23,11 persen, Perilaku Petugas Penagihan sebesar 21,55 persen, dan Fraud Eksternal seperti penipuan atau pembobolan rekening sebesar 8,51 persen,” jelas Agus.
Menutup laporannya, ia kembali menekankan komitmen otoritas.
“OJK Provinsi Kalimantan Selatan senantiasa mendorong lembaga jasa keuangan di daerah lebih kontributif untuk mendukung perekonomian di daerah,” pungkas Agus Maiyo.
(Ian)













