Kalara Borneo Hidupkan Kebun Kakao untuk Cegah Alih Fungsi ke Sawit

produk olahan kakao dari petani di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, yang difasilitasi oleh Kalara Borneo (dok. Kalara Borneo)

JURNALKALIMANTAN.COM, PONTIANAK – Kalara Borneo, usaha sosial pengolahan cokelat asal Kalimantan Barat, berupaya menghidupkan kembali kebun kakao masyarakat adat yang telantar agar tetap bernilai ekonomi dan tidak beralih menjadi perkebunan kelapa sawit.

Melalui pembelian biji kakao langsung dari pekebun dan pendampingan bersama organisasi lokal, Kalara mendorong masyarakat kembali merawat kebun sekaligus mengembangkan sistem agroforestri atau penanaman kakao bersama tanaman lain.

“Kami tidak ingin kebun telantar itu berubah menjadi kebun kelapa sawit,” kata Yessy Octavia R. Tuani Mangasih, Kepala Produksi Kalara Borneo sekaligus bagian dari masyarakat adat Dayak Iban.

Di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, kakao tumbuh bersama tanaman lain, seperti pisang, nanas, kopi, durian, dan karet. Pola ini sejalan dengan sistem tembawang yang telah lama dipraktikkan masyarakat adat.

Namun, sebagian kebun kakao ditinggalkan karena pekebun kesulitan menjual hasil panen. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kalara membuka akses pasar dan mengolah biji kakao menjadi cokelat di Pontianak.

Kalara juga bekerja sama dengan Langkau Onet dan Yayasan Kalimajari untuk mendukung pendampingan, termasuk melalui sekolah lapang, penyediaan bibit, serta peningkatan kualitas biji kakao.

Menurut Yessy, mutu biji menjadi salah satu pertimbangan dalam penentuan harga pembelian. Dengan akses pasar dan pendampingan, pekebun diharapkan memperoleh penghasilan yang lebih baik tanpa harus membuka lahan baru.

Upaya tersebut turut dibagikan dalam Bangkok Climate Action Week 2026 di Thailand pada Oktober lalu, melalui Paviliun Ekonomi Berbasis Alam yang digagas Koalisi Ekonomi Membumi.

Yessy menilai, upaya menjaga hutan perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat adat. Sebab, keberlanjutan kebun dan hutan tidak terlepas dari penghidupan warga yang bergantung padanya.

“Kita menjual cokelat bukan hanya sekadar cokelat. Di situ ada cerita tentang petani, di situ ada cerita tentang hutan, di situ ada cerita tentang ekosistem,” ujarnya. (Viz)