JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Malnutrisi pada anak masih menjadi salah satu tantangan serius pembangunan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi tengkes di Kalimantan Selatan tercatat masih mencapai 22,9 persen, sehingga upaya pencegahan dan penanganannya dinilai perlu terus diperkuat.
Selain menghambat pertumbuhan, kondisi seperti tengkes, wasting (berat badan rendah dibanding tinggi badan), dan underweight (berat badan rendah dibanding usia), juga membuat anak lebih rentan terserang penyakit infeksi yang dapat berdampak pada kualitas hidup jangka panjang.
Karena itu, anak yang terindikasi mengalami masalah gizi, dianjurkan segera mendapatkan pemeriksaan oleh dokter spesialis anak, untuk evaluasi tumbuh kembang sekaligus mendeteksi kemungkinan penyakit penyerta.
Salah satu pendekatan yang dinilai berpotensi membantu penanganan malnutrisi, ialah pemberian Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau Nutrient-Dense Formula (NDF) sebagai intervensi nutrisi spesifik.
Temuan tersebut mengemuka dalam penelitian berjudul A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy, yang dipresentasikan Ketua Pharmacoepidemiology Research Group Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Muh. Akbar Bahar, pada ajang International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia.
Menurut Muh. Akbar Bahar, penelitian itu mengevaluasi dampak kesehatan dan ekonomi dari pemberian formula nutrisi padat gizi kepada anak Indonesia yang mengalami masalah gizi.
“Hasil analisis menunjukkan intervensi nutrisi tersebut berpotensi menurunkan prevalensi stunting sebesar 34,5 persen, wasting 72,7 persen, dan underweight 51,7 persen,” ujarnya melalui siaran pers yang diterima redaksi, Jumat (5/6/2026).
Ia menjelaskan, jika diterapkan secara luas, intervensi tersebut diperkirakan mampu mencegah sekitar 1,6 juta kasus tengkes, 1,2 juta kasus wasting, dan 1,9 juta kasus underweight pada anak Indonesia.
Penelitian tersebut juga menunjukkan potensi penurunan berbagai penyakit infeksi yang umum dialami anak dengan gizi kurang, seperti tuberkulosis (TB), pneumonia, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga diare.
Muh. Akbar menilai kebijakan nutrisi seharusnya tidak hanya dipandang sebagai program bantuan pangan, tetapi investasi kesehatan masyarakat jangka panjang.
“Ketika seorang anak mendapatkan nutrisi yang memadai, manfaatnya tidak hanya pada peningkatan berat dan tinggi badan, tetapi juga menurunkan risiko infeksi serta kebutuhan biaya pengobatan,” katanya.
Sementara itu, Founder dan Chairman Health Collaborative Center (HCC) dr. Ray Wagiu Basrowi, menilai hasil penelitian tersebut dapat menjadi dasar penting dalam pengambilan kebijakan berbasis data, untuk memperkuat intervensi gizi anak di Indonesia.
Menurutnya, penggunaan produk PKMK untuk anak tengkes maupun malnutrisi tetap harus mengacu pada aturan yang berlaku, serta memiliki bukti klinis dan ekonomi agar intervensi yang diberikan tepat sasaran.
Momentum Hari Lahir Pancasila, lanjutnya, menjadi pengingat penting bahwa pemenuhan gizi anak merupakan bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial, sekaligus investasi menuju Generasi Emas Indonesia 2045 yang sehat dan bebas tengkes.
(Rls/Ang)













