Transaksi Digital Naik, Ancaman Siber Berbasis AI Ikut Mengintai

https://vecteezy.com

JURNALKALIMANTAN.COM, JAKARTA Lonjakan transaksi digital selama Ramadan hingga Idulfitri 1447 Hijriah turut meningkatkan risiko serangan siber di sektor keuangan Indonesia. Kondisi ini menjadi perhatian serius seiring berkembangnya ekonomi digital berbasis kecerdasan buatan (AI).

Dalam keterangan yang dirilis di Jakarta, beberapa waktu yang lalu, disebutkan bahwa peningkatan aktivitas digital menciptakan potensi kerentanan baru dalam ekosistem keuangan yang semakin terhubung.

Data Unit 42 dari Palo Alto Networks mencatat adanya peningkatan serangan phishing dan penipuan hingga 30 persen selama periode Ramadan dan Idulfitri. Serangan berbasis identitas mendominasi dengan porsi 22 persen, disusul rekayasa sosial lainnya sebesar 11 persen.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa ancaman siber kini semakin kompleks, terutama dengan memanfaatkan teknologi AI yang membuat metode penipuan menjadi lebih canggih dan sulit dideteksi.

Seiring dengan percepatan transformasi menuju masyarakat tanpa uang tunai yang didukung Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ketergantungan terhadap sistem digital juga semakin tinggi. Hal ini berdampak pada meningkatnya kompleksitas sekaligus risiko dalam operasional sektor keuangan.

Untuk itu, pendekatan keamanan dinilai perlu bergeser dari yang bersifat reaktif menjadi proaktif. Institusi keuangan didorong untuk mengadopsi sistem keamanan berbasis AI yang mampu mendeteksi anomali secara real-time serta mencegah potensi serangan sebelum berkembang.

Selain itu, integrasi sistem keamanan menjadi kunci penting dalam menghadapi ancaman. Platform yang terintegrasi dinilai mampu memberikan visibilitas lebih luas terhadap potensi risiko, sekaligus memastikan kebijakan keamanan diterapkan secara konsisten.

Pendekatan zero-trust juga menjadi salah satu strategi yang direkomendasikan, di mana setiap akses harus melalui proses verifikasi tanpa mengandalkan kepercayaan implisit. Hal ini mencakup pembatasan akses berbasis kebutuhan serta perlindungan kredensial secara berkelanjutan.

Dengan langkah tersebut, sektor jasa keuangan Indonesia diharapkan tidak hanya mampu bertahan dari serangan siber, tetapi juga membangun infrastruktur digital yang lebih tangguh di tengah pesatnya perkembangan ekonomi berbasis AI. (Viz)