Metodologi Baru, Dispersip Kalsel Susun Strategi Tingkatkan IPLM dan TGM

Kepala Dispersip Kalsel, Sri Mawarni saat membuka kegiatan Workshop.

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Pengukuran Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) kini menggunakan metodologi baru yang lebih komprehensif.

Penerapan metode baru tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Workshop Perhitungan IPLM dan TGM, yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalsel di Aula Kantor Dispersip Kalsel, Rabu (15/7/2026).

Kegiatan diikuti kepala dinas perpustakaan beserta jajaran dari 13 kabupaten/kota se-Kalsel dan dibuka langsung Kepala Dispersip Kalsel, Sri Mawarni.

Ketua Tim IPLM dan TGM Nasional Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Irhamni, yang hadir sebagai narasumber, menjelaskan bahwa 2026 merupakan tahun kedua penerapan metodologi baru dalam pengukuran IPLM dan TGM.

Menurutnya, metode terbaru tidak lagi hanya mengandalkan data administratif, tetapi juga mengukur kondisi nyata berbagai jenis perpustakaan, mulai dari perpustakaan umum, perpustakaan khusus, hingga perpustakaan sekolah.

“IPLM disusun berdasarkan dua dimensi, yaitu kepatuhan dan kinerja, yang mencakup aspek koleksi, sumber daya manusia, pengelolaan, serta pelayanan. Seluruh indikator tersebut akan berkorelasi langsung dengan tingkat kegemaran membaca masyarakat,” jelas Irhamni.

Ia menyebutkan, perubahan metodologi tersebut diharapkan dapat menghasilkan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi pembangunan literasi di setiap daerah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Tahun 2025, Provinsi Kalimantan Selatan mencatat IPLM sebesar 25,16, dengan dimensi kepatuhan 0,280 dan dimensi kinerja 0,246.

Kepala Dispersip Kalsel, Sri Mawarni, mengatakan, penerapan metodologi baru tersebut menjadi langkah strategis untuk menyusun rekomendasi peningkatan kualitas literasi masyarakat berbasis data.

“Kita serius. Melalui kegiatan ini kita ingin mendapatkan rekomendasi untuk meningkatkan kualitas literasi masyarakat kita,” ujar Sri.

Ia menambahkan, hasil pengukuran IPLM dan TGM diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pembangunan literasi yang lebih tepat sasaran.

Dalam workshop tersebut, Irhamni juga mengungkapkan Perpustakaan Dispersip Kalsel telah memiliki skor 85, sedangkan kondisi perpustakaan sekolah masih berada pada angka 23 dari skala 100.

Karena itu, ia mendorong sinergi antara dinas perpustakaan dan Dinas Pendidikan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota untuk meningkatkan kualitas perpustakaan sekolah.

Selain itu, perpustakaan sekolah juga didorong menerapkan layanan peminjaman buku untuk dibawa pulang oleh siswa.

Langkah tersebut dinilai dapat membangun kebiasaan membaca sejak usia sekolah dan berdampak terhadap peningkatan TGM masyarakat.

(Adv/Ih)