Harga Sayur Melambung, Pemkot Banjarmasin Pantau Pasokan dan Distribusi Pangan

Sekretaris Daerah Ichrom Muftezar bersama personel gabungan TPID, memantau harga dan pasokan pangan di Pasar Sentra Antasari, Kamis (15/10/26). (Foto: Ist)

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Harga sejumlah komoditas sayuran di Kota Banjarmasin mengalami lonjakan tajam, bahkan mencapai tiga hingga empat kali lipat. Kondisi ini menjadi perhatian Pemerintah Kota Banjarmasin dalam upaya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat.

Sekretaris Daerah Ichrom Muftezar bersama personel gabungan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), memantau harga dan pasokan pangan di Pasar Sentra Antasari serta retail modern Lotte Mart, Kamis (15/10/2026).

Dari hasil pemantauan, kenaikan harga paling mencolok terjadi pada sejumlah komoditas sayuran, di antaranya terong, kacang panjang, dan sawi hijau.

“Memang ada komoditas pangan yang harganya turun, tapi ada juga yang naik. Khusus sayuran, kenaikannya cukup tajam,” ungkap Sekda.

Menurutnya, lonjakan harga tersebut dipengaruhi musim kemarau dan gangguan distribusi pasokan dari luar daerah.

Pasokan sayuran di Banjarmasin berasal dari produksi lokal maupun pengiriman dari Pulau Jawa. Namun, produksi lokal menghadapi kendala akibat dampak kemarau dan kebakaran hutan dan lahan.

“Sementara pengiriman dari luar daerah juga menghadapi beberapa hambatan teknis di perjalanan,” jelas Ichrom.

Di tengah kenaikan sejumlah komoditas tersebut, harga bawang merah terpantau relatif stabil. Di Pasar Sentra Antasari, bawang merah utuh dijual sekitar Rp28.000 per kilogram, sedangkan bawang merah kupas berkisar Rp30.000 hingga Rp31.000 per kilogram.

Sementara itu, harga bawang merah di Pasar Lima disebut berada pada kisaran Rp22.000 per kilogram. Adapun harga daging ayam ras tercatat sekitar Rp28.000 hingga Rp30.000 per kilogram.

Selain memantau harga dan ketersediaan pangan, TPID bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan, juga mengingatkan masyarakat agar lebih cermat saat membeli produk makanan olahan, khususnya makanan dalam kemasan kaleng.

Warga diimbau menghindari produk dengan kemasan rusak, penyok, atau berkarat untuk mengurangi risiko kontaminasi yang dapat membahayakan kesehatan.

Dalam monitoring tersebut, Sekda turut menyoroti kebersihan dan ketertiban Pasar Sentra Antasari. Ia meminta pengelola pasar terus mengedukasi pedagang agar menjaga lingkungan pasar tetap bersih, rapi, dan nyaman bagi pengunjung.

“Aturan yang dibuat pengelola pasar itu bukan untuk membatasi rezeki pedagang, tapi demi menata pasar agar lebih bersih, rapi, dan nyaman. Kalau pasarnya nyaman, pembeli makin ramai, pedagang juga yang untung. Tanpa ketertiban, pasar terbesar kebanggaan kita ini bisa kacau,” pungkasnya.

(Adv/Ahmad M)