Program MBG Presiden Prabowo Mulai Hadir di Jejangkit, SPPG Cahaya Baru Rampung Dibangun

SPPG Terpencil di Desa Cahaya Baru, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala yang telah selesai dibangun. (Foto: Alibana)

JURNALKALIMANTAN.COM, BARITO KUALA – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Terpencil di Desa Cahaya Baru, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, telah selesai dibangun dan kini memasuki tahap persiapan operasional sebagai bagian dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kehadiran dapur MBG tersebut menjadi bagian implementasi program prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam memperluas layanan pemenuhan gizi di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

SPPG Cahaya Baru dibangun melalui partisipasi masyarakat oleh Yayasan Amal Bakti Sentosa Bersama. Sesuai mekanisme SPPG Terpencil, pembangunan dilakukan menggunakan dana masyarakat sebelum melalui proses penilaian kelayakan aset oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Kalimantan Selatan, untuk kemudian ditetapkan operasionalnya oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Gedung dua lantai tersebut berdiri di Jalan Ray 7 Jejangkit, RT 05 Desa Cahaya Baru, dengan luas minimal 150 meter persegi. Fasilitas pendukung berupa tangki air berkapasitas 3.000 liter juga telah disiapkan, termasuk konstruksi panggung yang disesuaikan dengan karakteristik lahan rawa.

Berbeda dengan dapur umum aglomerasi yang mampu melayani hingga 3.000 porsi per hari, SPPG Terpencil dirancang melayani maksimal 1.000 porsi per hari dengan melibatkan 20 relawan lokal guna menyesuaikan kondisi geografis wilayah terpencil.

Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Barito Kuala, Akhmad Jarkani, mengatakan sistem distribusi makanan akan disesuaikan dengan medan di lapangan, mulai dari sepeda motor, kendaraan roda tiga, hingga transportasi air.

“Transportasi distribusi disesuaikan medan wilayah, bisa pakai motor, roda tiga, atau kapal. Sasaran utamanya balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta peserta didik TK sampai SMA,” ujarnya.

Berdasarkan papan informasi di lokasi, tahapan persiapan operasional dimulai dari sinkronisasi administrasi BGN pada Mei hingga 15 Juli 2026. Selanjutnya dilakukan rekrutmen 20 tenaga dapur lokal pada 16–31 Juli 2026, pelatihan standar keamanan pangan dan gizi pada 1–20 Agustus 2026, hingga target operasional pada 21–30 Agustus 2026.

“Harapannya, dengan adanya SPPG Terpencil, pelayanan gizi bisa menjangkau daerah-daerah pelosok,” tambah Jarkani.

Saat ini, Kabupaten Barito Kuala tercatat memiliki 39 titik SPPG Terpencil yang tengah dibangun. Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan akan melakukan pendampingan agar program MBG berjalan optimal dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah.

(Alibana/Ang)