Relawan Karhutla Meninggal, Keselamatan Relawan Damkar Jadi Sorotan Pemkot Banjarmasin

Sekdako Banjarmasin Ichrom Muftezar menyampaikan belasungkawa pada keluarga Relawan yang meningal, Rabu (21/10). (Foto: Prokom Bjm)

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Keselamatan relawan kembali menjadi sorotan, setelah Nurdin (50), anggota Barisan Pemadam Kebakaran Kayu Bulan (KBL), meninggal dunia saat membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Rabu (21/10/2026).

Peristiwa tersebut mendorong Pemerintah Kota Banjarmasin merencanakan pengadaan alat pelindung dari paparan asap bagi petugas pemadam kebakaran (damkar).

Sekretaris Daerah Ichrom Muftezar mengatakan, pengadaan alat tersebut akan diprioritaskan bagi petugas damkar di bawah naungan Pemkot. Jika anggaran memungkinkan, perlindungan serupa juga akan diberikan kepada relawan damkar lainnya.

“Mudah-mudahan pada 2027 kita akan menyiapkan alat penyaring asap itu,” katanya, usai melakuan takziah di rumah korban, malam harinya.

Sekda menegaskan, keselamatan petugas harus menjadi perhatian utama dalam setiap penanganan kebakaran, terutama ketika bekerja di lokasi yang dipenuhi asap.

“Kami mengimbau, kalau memang tidak ada alat pelindung, usahakan tetap memprioritaskan keselamatan dan keamanan. Selain menyelamatkan masyarakat, keselamatan kawan-kawan relawan juga harus diperhatikan,” tegasnya.

Tezar juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Nurdin, dan berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

“Atas nama Bapak Wali Kota Banjarmasin, kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga almarhum. Kita doakan bersama, semoga almarhum mendapatkan rahmat dari Allah Swt.,” harapnya.

Sebagai bentuk kepedulian, Wali Kota juga menitipkan tali asih yang telah diserahkan kepada istri almarhum.

Berdasarkan keterangan Iskandar (53), relawan Damkar Sarimi di Jalan Sultan Adam, Nurdin berangkat bersama rombongan menuju lokasi karhutla. Ia bergabung dengan armada mereka setelah berangkat dari rumahnya di kawasan Kayu Bulan, Sungai Andai.

“Sekitar pukul 13.00 Wita kami sampai di lokasi. Korban turun untuk memadamkan api bersama beberapa orang lainnya. Kurang lebih satu jam bekerja, korban mengeluh sesak napas dan sakit dada,” cerita Iskandar.

Setelah mengeluhkan kondisi tersebut, Nurdin sempat beristirahat dan minum bersama rekan-rekannya. Namun, kondisinya justru semakin memburuk hingga mengalami kesulitan bernapas.

Rekan-rekannya kemudian memberikan pertolongan pertama dan memutuskan membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Saat perjalanan ke klinik, korban kejang-kejang dan tangannya sudah mengepal. Tidak lama kemudian, korban meninggal dunia. Jadi, meninggalnya kemungkinan dalam perjalanan ke puskesmas,” ungkap Iskandar.

Jenazah Nurdin kemudian dibawa ke rumah duka di kawasan Sungai Andai, Banjarmasin Utara. Sejumlah relawan tampak berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa dan mendoakan almarhum.

(Ih/Ahmad M)