JURNALAKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari (MAB) Banjarmasin mulai menerapkan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, terkait program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), untuk mendorong mahasiswa memiliki kemampuan menguasai beragam keilmuan yang akan berguna di dunia kerja.
“Program Studi Pendidikan Konseling Uniska sudah menjalankan itu pada semester ganjil ini. Oleh karena itu, dosen dari luar (kampus lain) juga mengajar di tempat kita. Jadi sudah pertukaran mahasiswa antar perguruan tinggi. Tidak internal saja, justru eksternal, jadi wawasan mahasiswa akan berkembang,” beber Dosen Senior Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uniska MAB Dr. H. Jarkawi, M.M.Pd., melalui WhatsApp, Ahad (12/09/2021).
Menurutnya, program MBKM ini bisa menjadi kesempatan besar mahasiswa, untuk dapat berperan dalam perubahan kemajuan dunia pendidikan dan dunia kerja, dengan menjadikan diri sebagai pemikir, visioner, inovator, dan generator.
“Karena dengan masa sekarang ini khususnya dalam globalisasi, tentunya akan membawa dampak pada perubahan sosial. Diharapkan para Mahasiswa memiliki pemikiran yang lebih kreatif, kritis untuk menyerap pengetahuan-pengetahuan baru, dan berkolaborasi untuk menjadikan pengetahuan yang baru,” ungkap Dr. H. Jarkawi, M.M.Pd.
Mantan Wakil Rektor I Uniska ini menguraikan, mahasiswa sebagai pemikir ialah kemampuan mental mahasiswa untuk berpikir, sehingga melahirkan suatu pergerakan mental dari satu hal menuju hal lain, dari proposisi satu ke proposisi lainnya, dari apa yang sudah diketahui kepada hal yang yang belum diketahui.
Sementara visioner, yakni kemampuan mahasiswa dalam mencipta, merumuskan, mengkomunikasikan, menyosialisasikan, mentransformasikan, dan mengimplementasikan pemikiran-pemikiran atau ideal yang berasal dari dirinya atau sebagai hasil interaksi sosial yang diyakini sebagai cita-cita di masa depan yang harus dicapai melalui komitmen.
Ketiga, adalah inovator, yakni kemampuan melakukan suatu kegiatan penelitian, pengembangan, dan atau perekayasaan untuk penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau pun cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah ada ke dalam produk atau pun proses produksinya.
“Sangat penting juga ialah generator, kemampuan mahasiswa menjadi magnetic force untuk mengubah suatu kehidupan yang lebih baik sesuai dengan nilai teologis, etis, estetis, psikis, logis, dan teologis,” tambah Dr. H. Jarkawi, M.M.Pd.
Selain itu menurutnya, Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik telah membelenggu para mahasiswa, sehingga ia mengimbau para generasi muda untuk teliti dalam membagikan informasi, agar tidak mudah termakan isu hoaks.
“Dia harus melakukan analisis. Cross check berita itu. Sehingga ini bisa ditangkal. Inilah peranan mahasiswa sebagai pemikir,” ungkap Dr. H. Jarkawi, M.M.Pd.
Ia menegaskan, masa saat ini memang semua orang bisa mengemukakan pendapatnya, tapi tetap diharuskan sesuai dengan fakta dan data.
“Maka dari itu, peran mahasiswa sebagai pemikir, inovator, penggerak, dan generator itu, harus jalan dan sejalan dengan program Kampus Merdeka,” tegas salah satu penyusun buku Beyond Imagination Pemikiran Syekh Arsyad Al-Banjari tersebut.














