Cegah Karhutla, BPBD dan Damkar HST Siaga 24 Jam

JURNALKALIMANTAN.COM, HULU SUNGAI TENGAH – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) hingga Juli 2026 telah terjadi sebanyak tujuh kali dengan luasan lahan terbakar mencapai 18,65 hektare — dan musim kemarau belum mencapai puncaknya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Damkar HST melalui Sekretaris BPBD HST Ahmad Apandi mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah meski kondisi saat ini masih terkendali.

“Kondisi karhutla di HST saat ini masih aman terkendali. Namun kita tidak boleh lengah karena kita baru memasuki fase awal musim kemarau,” ujarnya, Senin (27/7/2026).

Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2025 kejadian karhutla di HST mencapai 23 kali dengan luasan lahan terbakar 40,83 hektare — angka yang dicatat selama satu tahun penuh.

Tujuh kejadian karhutla hingga Juli 2026 itu tersebar di Desa Hulu Rasau, Desa Banua Binjai, Desa Mahang Baru, Desa Jamil, Desa Awang, Desa Binjai Pirua, dan Desa Tungkup.

Berdasarkan peta rawan bencana karhutla di HST, sejumlah kecamatan yang berpotensi tinggi mengalami kebakaran meliputi Kecamatan Labuan Amas Selatan, Labuan Amas Utara, Batang Alai Utara, Pandawan, Barabai, Hantakan, dan Batang Alai Timur.

Untuk mengantisipasi potensi tersebut, Tim Reaksi Cepat (TRC) dan personel Damkar disiagakan 24 jam penuh bersama kendaraan operasional, pompa pemadam, selang, tangki air, dan perlengkapan pendukung lainnya.

“TRC dan personel Damkar kami siagakan 24 jam. Seluruh peralatan sudah disiapkan agar respons terhadap kejadian karhutla bisa dilakukan secepat mungkin,” kata Ahmad Apandi.

BPBD HST juga menjalin koordinasi intensif dengan TNI, Polri, Pemkab HST, BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, kecamatan, pemerintah desa, serta instansi teknis lainnya untuk mempercepat pelaporan dan mobilisasi sumber daya apabila terjadi karhutla.

Ahmad Apandi mengakui ada dua kendala utama yang kerap dihadapi di lapangan.

“Kendala terbesar kami adalah kurangnya sumber air yang jaraknya sangat jauh dari titik api, serta medan yang tidak bisa dijangkau melalui jalur darat sehingga harus berkoordinasi dengan BPBD Kalsel untuk bantuan water bombing melalui udara,” ujarnya.

Masyarakat HST diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan di semak belukar atau kawasan hutan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap kepada BPBD, Damkar, pemerintah desa, atau aparat setempat.

“Jangan tunda laporan jika menemukan asap atau titik api. Semakin cepat dilaporkan, semakin cepat bisa kami tangani sebelum meluas,” tegas Ahmad Apandi.

(Rz)