Kasus Meningkat, Pemkot Banjarmasin Dorong Kampus Jadi Ruang Aman bagi Perempuan

Kepala DP3A Banjarmasin (tengah) foto bersama usai membuka kegiatan. (Foto : Ist)

JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA), menggelar Edukasi Perlindungan Perempuan dari Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) bagi Perguruan Tinggi, Selasa (12/5/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya memperkuat perlindungan terhadap perempuan di lingkungan akademisi, sekaligus mendorong meningkatnya kesadaran bahwa setiap mahasiswi, staf, dan seluruh civitas academica berhak mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, maupun pelanggaran hak asasi manusia.

Selain itu, edukasi ini juga menjadi wadah strategis untuk memastikan perguruan tinggi menjadi ruang aman yang bebas dari kekerasan seksual, maupun bentuk kekerasan lainnya.

Kepala DPPPA M. Ramadhan mengatakan, pihaknya berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kepekaan lingkungan kampus dalam mengenali indikasi kekerasan, serta memahami alur pelaporan dan penanganan yang tepat.

“Sehingga perlindungan perempuan benar-benar hadir secara nyata di lingkungan pendidikan,” ujarnya saat memberikan arahan.

Kadis mengungkapkan, permasalahan kekerasan terhadap perempuan masih menjadi tantangan serius di Banjarmasin. Berdasarkan data pengaduan yang masuk melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak selama periode 2019–2025, jumlah kasus terus mengalami peningkatan.

Pada 2023 tercatat 132 kasus, meningkat menjadi 180 kasus pada 2024, dan mencapai 216 kasus pada 2025. Sementara hingga April 2026, sudah tercatat 73 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Angka pelaporan ini tentu menjadi perhatian kita bersama. Namun di sisi lain, tingginya angka pelaporan juga menunjukkan perkembangan positif, bahwa masyarakat kini semakin berani untuk speak up, melaporkan, dan mencari keadilan,” tambahnya.

Ramadhan menegaskan, upaya pencegahan kekerasan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan memerlukan kolaborasi antara pemerintah dan institusi pendidikan.

“Kehadiran perwakilan perguruan tinggi hari ini sangat strategis dalam memastikan terciptanya ekosistem kampus yang sehat dan aman bagi perempuan,” tegasnya.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Banjarmasin Command Center itu menghadirkan narasumber dosen Program Studi Psikologi Universitas Lambung Mangkurat Rahmi Fauzia, serta perwakilan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XI Kalimantan Gusti Hidayat Noor Gusda. Peserta terdiri dari perwakilan berbagai perguruan tinggi di Banjarmasin.

(Ih/Ahmad M)