JURNALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banjarmasin menyiapkan sejumlah langkah untuk mempercepat penanganan bencana, mulai dari kebakaran permukiman, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga krisis air bersih yang terjadi di sejumlah wilayah.
Salah satu langkah yang menjadi perhatian adalah menyiapkan buffer stock atau stok logistik kebencanaan, sehingga bantuan kebutuhan dasar dapat segera disalurkan ketika masyarakat terdampak bencana.
Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kota Banjarmasin, Endhani Kastian, mengatakan penguatan kesiapsiagaan menjadi salah satu agenda yang akan segera dijalankan bersama kepengurusan baru PMI Kota Banjarmasin.
Menurutnya, ketersediaan logistik sejak awal sangat penting, khususnya untuk merespons bencana kebakaran yang masih menjadi salah satu ancaman di Kota Banjarmasin.
“Jadi ketika terjadi kebakaran, PMI sudah memiliki persediaan dan bisa langsung turun ke lapangan,” ujarnya usai pelantikan Ketua PMI Kota Banjarmasin Hj Ananda di Gedung Sekber Aula Khatib Dayan, Banjarmasin, Selasa (1/9/2026).
Selain logistik, PMI juga berencana menyiapkan rumah atau posko siaga bencana. Posko tersebut nantinya menjadi pusat koordinasi sekaligus mendukung percepatan mobilisasi relawan dan bantuan saat terjadi bencana.
Endhani menjelaskan, langkah tersebut sejalan dengan peran PMI dalam penanggulangan bencana sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan.
Dalam pelaksanaannya, PMI akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah maupun pihak terkait lainnya.
Pihaknya juga menyiapkan dukungan distribusi air dengan menggandeng Perumda Air Minum Bandarmasih.
Saat ini, PMI Kota Banjarmasin memiliki tiga unit truk tangki yang dapat dimanfaatkan untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat maupun mendukung kebutuhan penanganan bencana.
“Untuk bidang penanggulangan bencana, ada beberapa agenda yang akan segera kami jalankan. Pertama terkait air bersih dan air untuk pemadaman, sesuai instruksi PMI Provinsi,” katanya.
Menurut Endhani, permintaan distribusi air bersih sudah cukup banyak datang dari sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap armada menjadi perhatian PMI ke depan.
“Untuk air bersih, permintaan sudah cukup banyak dari beberapa wilayah. Karena itu, kemungkinan perlu ada penambahan armada,” ujarnya.
Ketersediaan air juga diperlukan untuk mendukung penanganan kebakaran.
Karena itu, penguatan armada dan koordinasi dengan berbagai pihak dinilai penting agar respons terhadap kondisi darurat dapat dilakukan secara cepat.
“Intinya kita ingin bergerak cepat. Ketika bencana terjadi, PMI sudah siap dengan sumber daya dan kebutuhan dasar sehingga bisa langsung turun ke lapangan,” pungkasnya.
(Ih/Ang)













